Accounting Standard Resume (SAK ETAP BAB XVI)
Accounting Standard Resume (SAK ETAP BAB XVI)

Accounting Standard Resume (SAK ETAP BAB XVI)

BAB XVI

ASET TIDAK BERWUJUD

RUANG LINGKUP

16.1 Bab ini diterapkan untuk akuntansi untuk semua aset tidak berwujud kecuali aset tidak berwujud yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal (lihat Bab 11 Persediaan dan Bab 20 Pendapatan)

16.2 Aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik. Suatu aset dapat diidentifikasikan jika:

  1. dapat dipisahkan, yaitu kemampuannya untuk menjadi terpisah atau terbagi dari entitas dan dijual, dialihkan, dilisensikan, disewakan atau ditukarkan melalui suatu kontrak terkait aset atau kewajiban secara individual atau secara bersama; atau
  2. muncul dari hak kontraktual atau hak hukumnya lainnya, terlepas apakah hak tersebut dapat dialihkan atau dapat dipisahkan dari entitas atau dari hak dan kewajiban lainnya.

16.3 Aset tidak berwujud tidak termasuk:

  1. efek (surat berharga), atau
  2. hak atas mineral dan cadangan mineral, misalnya minyak, gas alam dan sumber daya yang tidak dapat diperbarui lainnya.

PENGAKUAN

Prinsip Umum

16.4 Entitas harus menerapkan kriteria pengakuan dalam paragraf 2.24 untuk mengakui aset tidak berwujud. Oleh karena itu, aset tidak berwujud diakui jika:

  1. kemungkinan entitas akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari aset tersebut; dan
  2. biaya perolehan aset atau nilai aset tersebut dapat diukur dengan andal.

16.5 Dalam menilai kemungkinan adanya manfaat ekonomis masa depan, entitas harus menggunakan asumsi yang wajar dan dapat mendukung yang merupakan estimasi terbaik manajemen atas kondisi ekonomi yang aka ada selama masa manfaat aset.

16.6 Dalam menilai tingkat kepastian akan adanya manfaat ekonomis masa depan yang timbul dari penggunaan aset tidak berwujud, entitas mempertimbangkan bukti yang tersedia pada saat pengakuan awal aset dengan memberikan penekanan pada bukti eksternal.

16.7 Kriteria probabilitas pengakuan dalam paragraf 16.4(a) harus selalu dipertimbangkan untuk dipenuhi atas aset tidak berwujud yang diperoleh secara terpisah.

PENGUKURAN AWAL

16.8 Entitas mengukur aset tidak berwujud pada awalnya sebesar biaya perolehan.

Perolehan Terpisah

16.9 Biaya perolehan aset tidak berwujud yang diperoleh secara terpisah terdiri dari:

  1. harga beli, termasuk bea impor dan pajak yang sifatnya tidak dapat dikreditkan, setelah diskon dan potongan dagang; dan
  2. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam mempersiapkan aset sehingga siap digunakan sesuai dengan tujuannya.

Pertukaran Aset

16.10 Satu atau lebih aset tidak berwujud mungkin diperoleh melalui pertukaran dengan satu atau beberapa aset non-moneter, atau kombinasi aset moneter dan aset non-moneter. Biaya perolehan aset tidak berwujud semacam itu harus diukur sebesar nilai wajar, kecuali: (a) transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial, atau (b) nilai wajar aset yang diterima atau diberikan tidak dapat diukur secara andal

16.11 Jika entitas mampu menentukan nilai wajar secara andal atas aset yang diterima atau diberikan, maka nilai wajar aset yang diberikan digunakan untuk mengukur biaya perolehan kecuali nilai wajar aset yang diterima mempunyai bukti yang lebih jelas.

16.12 Jika entitas tidak mampu menentukan nilai wajar yang andal atas aset yang diperoleh, maka biaya perolehannya diukur pada jumlah tercatat aset yang diberikan. 

Aset Tidak Berwujud yang Dihasilkan secara Internal

16.13 Entitas harus mengakui pengeluaran internal yang terjadi atas aset tidak berwujud, termasuk semua pengeluaran untuk aktivitas riset dan pengembangan sebagai beban pada saat terjadinya, kecuali pengeluaran tersebut merupakan bagian dari biaya perolehan aset lainnya yang memenuhi kriteria pengakuan dalam SAK ETAP.

16.14 Pengeluaran berikut ini harus diakui sebagai beban dan bukan sebagai aset tidak berwujud:

  1. merek, logo, judul publikasi, daftar konsumen yang dihasilkan secara internal dan hal lain yang secara substansi serupa;
  2. aktivitas perintisan (biaya perintisan), termasuk biaya legal dan kesekretariatan dalam rangka mendirikan entitas hukum, pengeluaran dalam rangka membuka usaha atau fasilitas baru (biaya prapembukaan) atau pengeluaran untuk memulai operasi baru atau meluncurkan produk atau proses baru (biaya praoperasi);
  3. aktivitas pelatihan;
  4. aktivitas periklanan dan promosi;
  5. relokasi atau reorganisasi sebagian atau seluruh entitas.

16.15 Paragraf 16.14 tidak menghalangi pengakuan pembayaran dimuka sebagai aset ketika pembayaran atas barang atau jasa dilakukan sebelum penyerahan barang atau pelaksanaan jasa tersebut. 

Beban Lalu Tidak Diakui sebagai Aset

16.16 Pengeluaran atas aset tidak berwujud yang awalnya diakui sebagai beban tidak boleh diakui sebagai bagian dari biaya perolehan aset tidak berwujud di kemudian hari.

PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN AWAL

16.17 Entitas harus mengukur aset tidak berwujud pada biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai. Persyaratan amortisasi diatur dalam Bab ini. Persyaratan untuk pengakuan penurunan nilai diatur dalam Bab 22 Penurunan Nilai Aset. 

Umur Manfaat

16.18 Untuk tujuan SAK ETAP, semua aset tidak berwujud dianggap mempunyai umur manfaat yang terbatas. Umur manfaat aset tidak berwujud yang berasal dari hak kontraktual atau hak hukum lainnya tidak boleh melebihi periode hak kontraktual atau hak hukum tersebut, tetapi mungkin lebih pendek tergantung pada lamanya periode ekspektasi pengunaan aset tersebut. Jika hak kontraktual atau hak hukum lainnya untuk masa yang terbatas dapat diperbarui, maka umur manfaat aset tidak berwujud harus termasuk periode yang diperbarui hanya jika terdapat bukti yang mendukung pembaruan oleh entitas tanpa biaya yang signifikan.

16.19 Jika entitas tidak mampu mengestimasi umur manfaat suatu aset tidak berwujud, maka umur manfaatnya dianggap 10 tahun.

Periode dan Metode Amortisasi

16.20 Entitas harus mengalokasikan jumlah yang dapat disusutkan dari aset tidak berwujud secara sistematis selama umur manfaatnya. Beban amortisasi untuk setiap periode harus diakui sebagai beban, kecuali Bab lain mensyaratkan biaya tersebut sebagai bagian biaya perolehan suatu aset misalnya persediaan dan aset tetap.

16.21 Amortisasi dimulai ketika aset siap digunakan, yaitu aset tersebut berada di lokasi dan kondisi yang dibutuhkan untuk mampu beroperasi sesuai dengan keinginan manajemen. Amortisasi dihentikan ketika aset dihentikan-pengakuaanya. Entitas harus memilih metode amortisasi yang mencerminkan pola pemanfaatan aset di masa mendatang. Jika entitas tidak dapat menetapkan pola yang andal, maka entitas harus menggunakan metode garis lurus.

Nilai Residu

16.22 Nilai residu suatu aset tidak berwujud seharusnya diasumsikan sama dengan nol, kecuali:

  1. ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aset tidak berwujud tersebut pada akhir masa manfaatnya; atau
  2. ada pasar aktif bagi aset tidak berwujud tersebut dan: 
  1. nilai residu aset dapat ditentukan dengan mengacu pada harga yang berlaku di pasar tersebut; dan
  2. terdapat kemungkinan bahwa pasar yang aktif tersebut akan tetap ada pada akhir umur manfaat aset tidak berwujud 

Telaah Ulang atas Periode dan Metode Amortisasi

16.23 Faktor-faktor seperti perubahan pemakaian aset, perkembangan teknologi, dan perubahan harga pasar dapat mengindikasikan bahwa umur manfaat aset tidak berwujud telah berubah sejak tanggal periode tahunan paling kini. Jika terdapat indikator tersebut, maka entitas harus menelaah ulang estimasi sebelumnya dan (jika ekspektasi sekarang berbeda) mengubah metode amortisasi atau umur manfaat. Entitas harus memperlakukan perubahan metode amortisasi atau umur manfaat sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai dengan paragraf 9.15-9.18.

PENURUNAN NILAI

16.24 Entitas harus menerapkan Bab 22 Penurunan Nilai Aset untuk menentukan apakah aset tidak berwujud telah mengalami penurunan nilai. Bab 22 menjelaskan kapan dan bagaimana entitas mengkaji-ulang jumlah tercatat aset, bagaimana menentukan jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset, kapan mengakui kerugian penurunan nilai atau pemulihannya.

PENGHENTIAN DAN PELEPASAN

16.25 Entitas harus menghentikan pengakuan aset tidak berwujud, dan mengakui keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi jika aset tidak berwujud:

  1. dilepaskan; atau
  2. ketika tidak ada lagi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari penggunaannya dan pelepasannya.

PENGUNGKAPAN

16.26 Entitas harus mengungkapan hal-hal berikut untuk setiap kelompok aset tidak berwujud:

  1. umur manfaat atau tarif amortisasi yang digunakan;
  2. metode amortisasi yang digunakan;
  3. jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi pada awal dan akhir periode;
  4. unsur pada laporan laba rugi yang di dalamnya terdapat amortisasi aset tidak berwujud;
  5. rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan, pelepasan, amortisasi, dan perubahan lainnya secara terpisah.

16.27 Entitas juga harus mengungkapkan:

  1. penjelasan, jumlah tercatat dan sisa periode amortisasi dari setiap aset tidak berwujud yang material bagi laporan keuangan entitas.
  2. keberadaan dan jumlah tercatat aset tidak berwujud yang hak penggunaannya dibatasi dan jumlah tercatat aset tidak berwujud yang ditentukan sebagai jaminan atas utang;
  3. jumlah komitmen untuk memperoleh aset tidak berwujud.

16.28 Entitas harus mengungkapkan jumlah agregat pengeluaran riset dan pengembangan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan (yaitu jumlah pengeluaran yang terjadi secara internal atas aktivitas riset dan pengembangan yang tidak dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset lainnya yang memenuhi kriteria pengakuan dalam SAK ETAP).

Footnote: Akumulasi Amortisasi: Total dari penyusutan suatu aset tetap/aset tidak berwujud yang telah dibebankan.

Sumber: Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP), efektif per 2011, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.