Pejalan Kaki, Susah Nyebrang!

 

Purwokerto yang dulu bukanlah yang sekarang. Mungkin itu bisa menggambarkan kondisi lalu lintas di Purwokerto khususnya daerah kampus tercinta kita ini. Kendaraan bermotor yang kian hari semakin memadati jalan-jalan di sekitar kampus setiap harinya membuat lalu lintas daerah kampus ini menjadi sedikit “macet”. Kendaraan-kendaraan melintas tidak hanya roda dua, bahkan setelan truk saja seringkali dipaksakan melewati jalan gang yang lebarnya tidak sampai 3 meter. Belum lagi kasusnya pengendara kendaraan bermotor yang sering ngebut atau juga tidak mau mengalah satu sama lain, memberi kesan jalan terasa lebih “semrawut”.
Perlu kita ketahui dibalik semua masalah yang dipaparkan di atas, ada pihak yang juga perlu kita perhatikan dalam kacaunya lalu lintas ini. Ya, pejalan kaki. Pejalan kaki di sekitar kampus mungkin tidak menjadi dominan dalam per “lalu lintas” an, tetapi ini yang seharusnya menjadi prioritas. Pejalan kaki yang seharusnya didahulukan kini menjadi seperti “sisaan”. Seringkali pejalan kaki mengalami kesulitan untuk sekedar menyebrang jalan. Padahal jika diamati, pejalan kaki misalnya saja mahasiswa bisa melewati beberapa kali sebrangan setiap harinya. Tetapi keadaan lalu lintas yang buruk bisa menghabiskan bermenit-menit hanya untuk menyebrang. Keadaan ini disebabkan oleh setidaknya dua hal, minimnya rambu lalu lintas bagi penyebrang jalan dan masih kurangnya sikap sadar lalu lintas pengendara kendaraan bermotor.
Pertama, rambu lalu lintas untuk penyebrang jalan masih kurang. Di beberapa titik penyebrangan bahkan di jalan besar di daerah kampus belum terdapat lampu untuk penyebrang jalan sehingga para pejalan kaki harus benar-benar sigap ketika hendak menyebrang di jalan raya. Kedua, masih kurangnya sikap sadar lalu lintas diantara para pengguna jalan. Para pejalan kaki yang hendak menyebrang seringkali mengalami kesusahan karena kendaraan bermotor yang tak kunjung mempersilahkan untuk menyebrang. Sering penulis dapati kendaraan bermotor yang malah melaju semakin kencang ketika ada orang yang hendak menyebrang. Beberapa kasus bahkan pejalan kaki yang ingin menyebrang dan memberi isyarat dengan tangan pun diabaikan saja dan hampir tertabrak.
Kedua hal tersebut menjadi perhatian bagi kita semua, terutama sebagai mahasiswa yang menjadi penerus generasi bangsa yang bermoral dan teladan. Sudah seharusnya kita menjadi contoh figur yang baik bagi masyarakat melalui hal – hal kecil seperti tertib berkendara. Mengutamakan pengguna jalan sesuai peraturan dan terlebih lagi, mengutamakan keselamatan berkendara.

Ditulis oleh : Rahmi Hilmayani

 

#VIVAHMJA
#HMJA2018
#BergerakBersama
#BidangPengabdianMasyarakat

Leave a Reply