KUPU-KUPU, KURA-KURA, MANA YANG LEBIH BAIK?

Menjadi mahasiswa yang baik tidaklah mudah. Banyak yang mengatakan bahwa mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang memiliki IPK tinggi, ada juga yang mengatakan bahwa mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang tidak hanya aktif di dalam kelas tapi juga aktif di luar kelas, seperti aktif di organisasi, kepanitiaan, dan aktivitas kampus lainnya. Rasanya setiap orang memiliki pandangannya masing-masing.

Menjadi mahasiswa memang tidak selalu hanya datang kuliah, absen, duduk, mendengarkan dosen menjelaskan materi, ikut kuis, dan ujian, tetapi, bersosialisasi dan turut aktif dalam kegiatan di luar perkuliahan juga penting. Organisasi adalah salah satu wadah yang tepat untuk mahasiswa menyalurkan aspirasi, belajar bersosialisasi, dan membangun relasi.

Jika kita lihat secara umum, ada dua tipe mahasiswa yang sering kita temui, yaitu mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang), dan mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat). Menjadi seorang mahasiswa sekaligus seorang organisatoris tidaklah salah. Justru dengan menjadi organisatoris dapat membantu kita dalam hal manajemen waktu. Namun, bukan berarti menjadi mahasiswa yang hanya aktif di dalam kelas dan tidak mau mengikuti organisasi juga adalah hal yang salah.

Setiap manusia punya pilihan. Tidak perlu saling membandingkan mana yang lebih baik diantara kedua tipe itu apalagi saling meramal masa depan seseorang dengan berkata bahwa mereka yang hanya sibuk organisasi pasti masa depannya suram atau mereka yang hanya kuliah-pulang, kuliah-pulang, pasti nggak punya relasi di masa depan. Mari kita mengambil sisi positif dari kedua tipe mahasiswa itu.

Mereka yang memutuskan menjadi seorang mahasiswa dan memilih berkecimpung juga di dalam dunia organisasi bisa jadi karena memang mereka ingin mengembangkan minat dan bakat mereka di dalam sana. Mereka ingin berlatih menyalurkan aspirasi mereka, belajar berkontribusi untuk sekitarnya dan ingin mencari teman sebanyak-banyaknya. Begitu juga dengan seorang mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang) yang selama ini selalu diidentikkan dengan mahasiswa anti sosial, bisa jadi bagi mereka yang memilih untuk fokus kuliah saja tanpa mengikuti organisasi bukan karena mereka apatis atau anti sosial melainkan karena mungkin mereka memiliki kesibukan lain di luar kampus yang mungkin jika harus dibarengi dengan organisasi juga dapat mengganggu kuliah mereka seperti, memulai berwirausaha atau kerja paruh waktu, atau mungkin memang karena tidak adanya izin dari orangtua untuk mahasiswa tersebut terjun di dalam organisasi.

Memang organisasi dapat membangun relasi, tapi bukan berarti mahasiswa tanpa organisasi tidak memiliki relasi. Relasi dapat dibangun kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja. Relasi tidak hanya dibangun melalui ikut organisasi maupun kepanitiaan, namun juga bisa dibangun melalui kompetisi yang diikuti, melalui bisnis yang dijalankan, juga melalui berbagai kegiatan lain yang kita bangun di luar kampus.

Tidak ada mahasiswa yang buruk. Tidak ada mahasiswa yang memiliki masa depan suram. Bagaimana masa depan kita nantinya itu tergantung bagaimana kita membangun prosesnya. Menjadi mahasiswa kura-kura itu baik, tapi menjadi mahasiswa kupu-kupu juga tidaklah buruk. Setiap orang punya cara membangun masa depan mereka sendiri dan menentukan jalan apa yang harus mereka pilih.

Jadi, mau menjadi kupu-kupu atau kura-kura? Itu pilihan, yang terpenting adalah tanggung jawablah pada setiap pilihan yang kita pilih, karena setiap pilihan pasti memiliki resikonya sendiri.

Ditulis oleh: Rahma Yulita Kemalasari (Akuntansi 2016)

Leave a Reply