Potret Jakarta

                Ibu kota Negara Indonesia adalah Jakarta, tempat dimana pemerintahan dan keramaian berpusat. Dengan luas sekitar 661,52 km dan 10.187.595 jiwa ini menyimpan banyak sudut pandang yang beragam. Sebagai Ibu kota Negara, tentunya Jakarta ini pun menjadi pusat  bisnis, politik, fashion serta kebudayaan,banyak sekali uang yang beredar di ibu  kota ini,sehingga harga sandang pangan dan papan pun meningkat tinggi seiring dengan perkembangan zaman.Ada beberapa kejadian dan lingkungan yang seharusnya tidak terjadi di Ibu Kota. Macet, inilah kata yang sering “kami”penduduk Jakarta keluhkan,di sepanjang matahari terbit sampai kembali terbit kemacetan di Ibu kota tidak terhindarkan, apalagi di jam-jam berangkat dan pulang kerja, jalanan Jakarta ini seperti lautan kendaraan, mata yang tidak bisa melihat jauh karena asap polusi yang berkerumun di udara,hidung yang menghirup asap kendaraan, telinga yang kebisingan mendengar klakson kanan kiri, yaaa inilah Jakarta, senja di Jakarta harus kita nimati dengan melihat kopaja dan harus siap mengarungi lautan kendaraan. Banyak hal layak orang hanya melihat “macet” sebagai hal terburuk Jakarta, tapi kota yang punya banyak segudang orang sukses dan segudang orang pintar ini lupa bahwa banyak penduduk yang kurang mendapat perhatian, pemerintah berkata ”warga yang di tinggal dibawah kolong jembatan harus digusur, karena mengganggu estetika dan ekosistem” yaa memang benar sekali, tapi mengapa dari tahun ke tahun selalu bertambah jumlah warga yang tinggal di kolong jembatan? jawabannya adalah mereka para pendatang selalu berpikir bahwa kalau tidak ada pekerjaan ya datang saja ke Jakarta, stigma itulah yang membuat setiap tahunnya kota Jakarta kedatangan tamu yang tak diundang. Ini PR buat pemerintah, bukan hanya kota Jakarta, mengapa mereka mau mencari pekerjaan saja harus datang ke Jakarta? memangnya di kota asal mereka “kurang” pembangunan dan lapangan pekerjaan? Jawabannya adalah iya! Mereka pikir Jakarta itu lapangan pekerjannya dan pembangunannya itu pesat ,memang benar, tapi kalo setiap tahunnya banyak warga pendatang yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan,pembangunan dan lapangan pekerjaan itu akan semakin sulit, lahan semakin sempit, anggaran Ibu kota tak sebesar yang kalian pikirkan. Bukan hanya pemprov DKI ataupun pemerintah pusat yang harus mencari solusi atas masalah ini,kalian para warga yang berperan sangat penting, kalau tidak ada pekerjaan yang kalian cari diJakarta yaa jangan dipaksakan untuk tetap tinggal di Jakarta, kembalilah ke kota asal kalian, kembangkan keahlian dan pemerintah harus bisa membantu dengan cara meratakan pembangunan,kembangkan dan gali sumber daya yang ada di daerah. Buat Jakarta, macet bukan 100% salah pemerintah DKI, kalian warga harus sadar, bagaimana pemerintah mau membenarkan masalah kemacetan kalo kalian sendiri terus membeli kendaraan pribadi, sudah disediakan fasilitas umum yang harganya terjangkau,mengapa kalian tidak mau pakai? gengsi? hilangkan rasa itu, kita bangun Jakarta bersama, buang sampah pada tempatnya, parkir jangan sembarangan, taati peraturan, jadilah manusia yang bijak, jangan bisanya hanya membajak.

Kami mahasiswa yang berkuliah di luar kota, kami adalah pendatang yang hanya ingin belajar, suatu saat nanti dikala kami sudah lulus, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah didapat, kami akan kembali ke kota asal kami untuk membangun dan menggali sumber daya yang  ada di kota asal kami. Bagi para generasi muda, teruslah berkarya, buatlah sebuah inovasi yang berguna bagi bumi pertiwi.

Penanggung Jawab: M. Wisnu Kusumawiguna

Ditulis Oleh: Rhaditza R.A (Akuntansi 2016)

Leave a Reply