resos-september-copyALEPPO : BANTUAN atau DUKUNGAN?

     Jatuhnya Aleppo merupakan tragedi terburuk Perang Suriah. Krisis yang berlangsung di Aleppo dengan korban puluhan ribu merupakan tragedi terburuk sepanjang perang Suriah. Sementara puluhan ribu lainnya terdampar di perbatasan antara Suriah dan Turki. Mereka tidur disana dengan cuaca yang dingin. Hal tersebut disebabkan oleh bombardir Rusia ke wilayah Suriah.

Selama beberapa pekan terakhir ini, Aleppo menjadi ajang pertempuran sengit antara pasukan pemberontak melawan pemerintah Suriah yang disokong Rusia.

Aleppo : Intervensi Rusia dan Konspirasi Amerika

Dalam suasana ini, posisi Rusia yang mengancam baru-baru ini dilakukan untuk mengarahkan intervensi militer dengan memanfaatkan persenjataan canggih yang tidak dapat digunakan selain oleh para ahli Rusia. Hal ini juga terjadi ditengah suasana ketakutan media atas meluasnya intimidasi, suatu kejahatan yang digagas oleh Amerika yang mengumumkannya lewat radio, juga adanya gambar-gambar yang diikuti oleh pernyataan-pernyataan mengenai analisis ini.

Tetapi hingga kini, kedua “bantuan” dari negara tersebut tidak mampu meredam konflik dan hingga kini korban masih berjatuhan dan warga Aleppo masih dilingkupi ketakutan yang mencekam. “Bantuan” yang hanya berupa rudal, militer, dan tenaga medis tidak mampu meredam perang justru malah menambah gejolak perang yang terjadi di daerah tersebut. Sebenarnya perang tersebut untuk kepentingan siapa? Pemberontakan warga Suriah kah? Atau kah Amerika dan Rusia yang ingin unjuk gigi “membantu” dengan kekuatan militer mereka?

Apabila dikaji lebih luas lagi semakin banyak konspirasi yang dapat ditemukan namun disini saya memfokuskan pada sesuatu hal yang disebut “membantu” warga Suriah. Bantuan dari bangsa lain pun datang berupa sumbangan, pakaian, obat, dan menegaskan bahwa warga Aleppo adalah pengungsi ditanah mereka sendiri seakan akan bersimpatik dan ingin menegaskan dukungan seperti perkataan umum orang indonesia “ sabar ya.. Ini saya beri bantuan semoga berguna dan perangnya segera berkhir.. Aminn..”. Namun hanya itu saja? Ibaratnya bantuan tersebut hanya seperti kita membantu orang yang terluka kemuadian terluka lagi, terus saja mengobati tapi tidak memulihkan. Itulah yang dirasakan warga Aleppo saat ini. Hanya diobati namun tidak dipulihkan.

Lantas bantuan apa yang benar-benar diperlukan warga Aleppo? Apa dukungan saja cukup? Tentu cukup jika itu mampu memerdekakan dan membebaskan Aleppo dari perang yang menahun tersebut. Kota tersebut perlu kebebasan, anak kecil disana juga perlu sekolah dan bermain tanpa takut diserang rudal dan timah. Selama ini perundingan damai selalu gagal kembali dan hanya mencari solusi militer melalui perang di Suriah dibandingkan penyelesaian politik.

Upaya memerdekakan tidak perlu melalui senjata cukup dengan jalur diplomasi yang sebenarnya sederhana ini dan kita selaku mahasiswa harus berani menegaskan dukungan tersebut karena bagi saya mahasiswa bukan hanya orang yang belajar diperguruan tinggi tetapi mereka adalah agen pembawa perubahan, hal tersebut juga yang benar benar diperlukan bagi warga Aleppo yaitu agen perubahan bagi bangsanya yang bukan hanya mampu mengobati tetapi juga memulihkan.  Apabila warga tersebut sudah merdeka maka mereka akan mandiri dan hidup normal tanpa perlu “dibantu” lagi dengan senjata, militer, dan juga ucapan bela sungkawa.

 

Penulis                      : Dita Utami angkatan 2015

Penanggung jawab : Gatot Kuswandono Pambudi