Ribut-ribut Dolar dan Rupiah

 

Dolar, dolar, dan dolar. Salah satu kata yang ramai dibahas melalui berita di televisi maupun di dalam perkuliahan khususnya di fakultas kita tercinta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menjadi pemicu timbulnya obrolan hangat ini. Bahkan, nilai tukar rupiah pernah menembus angka Rp 15.029 pada Selasa (4/9/2018). Lalu, sebenarnya apa sih penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar itu?
Seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar pun terjadi karena adanya faktor eksternal dan internal. Faktor utamanya tentu berasal dari negara asalnya sendiri yaitu Amerika Serikat.
Jika kita tarik mundur waktu satu dekade lamanya, maka kita akan menemukan peristiwa krisis finansial AS yang kemudian meluas menjadi krisis global. Semenjak krisis tersebut, AS bergegas untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka dengan berbagai kebijakan sehingga perekonomian AS mulai membaik seiring berjalannya waktu. Hal ini mengakibatkan investor optimis akan prospek ekonomi AS yang berimbas pada meningkatnya yield spread dan suku bunga di sana.
Kebijakan pertama yang dilakukan AS untuk bangkit dari krisis adalah melakukan Quantitative Easing. Quantitative Easing adalah kebijakan moneter yang dilakukan The Fed (Bank Sentral AS) untuk mencegah penurunan suplai dolar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan gairah perekonomian AS dari krisis melalui pembelian aset berupa surat utang AS dan obligasi kredit perumahan. Kemudian, dana yang diperoleh ini digunakan oleh para investor untuk menanamkan modalnya di negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.
Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan kebijakan Tapering Off. Pada intinya The Fed ingin mengurangi stimulus dana karena kondisi ekonomi pasca krisis mereka sudah mulai membaik. Kebijakan ini tentu saja membuat investor tak mau mengambil resiko. Mereka memindahkan penanaman modalnya ke negara-negara lain yang dirasa memberikan pertumbuhan ekonomi lebih baik, bahkan menarik diri kembali ke kampung halaman di AS. Akibatnya, jumlah dolar di negara berkembang termasuk Indonesia semakin sedikit dan tentunya semakin berharga.
Kembali ke masa sekarang, kondisi politik yang kian memanas menjelang pelaksanaan Pilpres 2019 turut memperkuat penjelasan akan hal ini. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah menjelang Pilpres akan cenderung lebih populis (berpihak langsung pada rakyat). Salah satu contoh kebijakan populis yang dikeluarkan Jokowi sebagai pertahanan adalah melakukan penambahan subsidi energi demi mempertahankan harga BBM subsidi di tengah melambungnya harga minyak dunia. Jadi, hal inilah yang diduga menurunkan kepercayaan investor pada penggunaan APBN yang tidak lagi efektif dan meragukan kecepatan pemulihan ekonomi Indonesia yang lesu.
Imbas semakin berharganya dolar mengakibatkan perekonomian global juga menjadi lesu. Komoditi ekspor andalan Indonesia menjadi terkena dampaknya. Sementara, kegiatan impor di Indonesia masih banyak dilakukan. Perdagangan untuk mendukung produk lokal di dalam negeri juga belum optimal. Neraca perdagangan kita menjadi defisit secara tahunan sebesar 1,02 miliar dolar AS.
Jadi, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar salah siapa sih? Salah aku, kamu, dia, atau pemerintah? Mahasiswa sebagai sosok intelektual muda sudah seharusnya ‘melek’ penyebab timbulnya permasalahan di sekitarnya agar tidak mudah termakan berita hoax. Jangan mudah terprovokasi dengan kondisi politik saat ini. Mengkritik pemerintah merupakan hal yang wajar dalam praktik demokrasi. Namun, hal tersebut bukan berarti menyalahkan pemerintah atas segala permasalahan di negeri ini.
Sebenarnya, fluktuasi nilai tukar suatu mata uang itu merupakan hal yang alami terjadi akibat kegiatan ekonomi global. Ibarat sebuah siklus, fluktuasi tersebut dapat ‘menyesuaikan diri’ kembali ke titik seimbangnya. Selama fluktuasi yang terjadi masih terjaga dalam rentang aman yang diatur pemerintah, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Pemerintah juga melakukan berbagai upaya untuk memperkuat nilai tukar rupiah kembali salah satunya dengan menaikkan PPh impor sebesar 10 persen.
Sebagai mahasiswa yang memiliki kontrol sosial dalam masyarakat, kita dapat berperan aktif dalam melihat permasalahan yang timbul di sekitar kita dengan memanfaatkan ilmu yang sudah kita peroleh. Tak perlu soal ‘aksi’ atau ‘demo’ turun ke jalan yang lantang disuarakan dengan masif, bentuk kepedulian sosial dapat berupa hal-hal ilmiah yang sederhana yaitu menuangkan ide-ide brilian ke dalam tulisan, diskusi, dan aksi nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk solusi terhadap permasalahan yang timbul. Kita bisa membantu pemerintah memperkuat nilai tukar rupiah dengan cara berhemat dan mendukung produk-produk lokal karya anak bangsa di negeri sendiri.
Daripada terpengaruh hashtag yang rawan memecah belah bangsa, lebih baik kita buat hashtag baru #2019GantiStatusJadiLulus. Ingat ya: dolar naik, jangan panik!

Ditulis oleh: Erinna Salsabila (Akuntansi 2016)

#VIVAHMJA
#HMJA2018
#BergerakBersama
#BidangPengabdianMasyarakat

 

Leave a Reply