Biaya Tertanam ( SUNK COST)

Menurut Krismaji & Aryani (2011 : 32) Sunk Cost adalah biaya yang terjadi di masa lalu dan tidak dapat diubah sekarang maupun di masa mendatang. Karena biaya ini tidak dapat diubah sekarang maupun di masa mendatang, maka biaya ini bukan merupakan biaya diferensial. Biaya yang kita keluarkan di masa lalu atau biaya – biaya yang dikeluarkan tetapi tidak menimbulkan efek terhadap perencanaan jangka pendek. Dengan kata lain, biaya tertanam adalah biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak dapat kita kembalikan.

Biaya pembelian yang dibayar dulu merupakan sunk cost. Tidak ada pilihan selain memperbaiki atau membeli peralatan baru. Tidak ada keputusan yang diambil berdasarkan jumlah sunk cost, karena sunk cost tidak dapat dikoreksi atau dikembalikan. Sekali terjadi tidak dapat diulang sehingga untuk kepentingan perhitungan cash flow, sunk cost kerap diabaikan karena tidak ada nilai informasinya untuk keputusan masa depan.

Contoh Sunk Cost :

  • Biaya Pabrikasi

Persediaan yang ada di gudang dan biaya perolehan mesin produksi yang dibeli di masa lalu.

  • Sunk Cost yang terjadi dalam pengeboran cadangan minyak baru.

Jika tidak ada cadangan minyak yang ditemukan, jumlah uang yang telah dihabiskan untuk menempatkan orang-orang dan peralatan alat berat tidak dapat dikembalikan, sehingga biaya tersebut akan hangus begitu saja.

  • Biaya training.

Sebuah perusahaan menghabiskan 600 juta rupiah untuk melatih staf penjualan dalam penggunaan komputer jenis baru, yang akan mereka gunakan untuk melakukan order / pesanan konsumen. Namun komputer tersebut terbukti tidak dapat diandalkan karena sering error, dan manajer bagian penjualan ingin menghentikan penggunaannya. Maka biaya pelatihan ini termasuk biaya sunk cost.

  • Suatu investasi berupa pembelian peralatan baru diputuskan dan dilakukan. Ternyata setelah berjalan satu tahun kinerja alat tersebut tidak seperti yang diharapkan, bahkan kerap rusak dan menghambat operasional perusahaan. Biaya pembelian yang dibayar dulu merupakan sunk cost.

 

Konsep Sunk Cost Fallacy

Dalam konsep sunk cost, ada suatu kondisi di mana sunk cost dapat mempengaruhi keputusan seorang manager untuk mengambil keputusan yang tepat, kondisi ini dinamakan Sunk cost Fallacy atau kekeliruan sunk cost. Galef (2013) menyatakan Sunk cost fallacy adalah kondisi dimana mengambil keputusan tidak berdasarkan pada hasil yang akan di dapat di masa depan melainkan berdasarkan keinginan untuk tidak melihat banyaknya investasi yang sudah dikorbankan di masa lalu. Atau bisa disebut dengan kepercayaan bahwa apapun yang telah diinvestasikan layak mendapat investasi lebih besar, bahkan jika investasi yang buruk di tempat pertama atau investasi tersebut tidak mungkin mengarah pada hasil yang diinginkan. Sebagai contoh, seorang eksekutif perusahaan yang memperjuangkan kampanye iklan meskipun  gagal total. Tetapi nantinya akan memberi tahu stafnya untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk meningkatkan konsep kampanye yang sama.

 

 

 

 

Sumber :

Blocher, E. J., Chen, K. H., Cokins, G., & W. Lin, T. (2007). Manajemen Biaya 1 (Ed. 3).

Jakarta: Salemba Empat.

Ingkiriwang, V. (2015). Penerapan Konsep Sunk Cost Terhadap Keputusan Pembelian

Aktiva Tetap Pada Toko Digital Printing. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, Volume 15 No. 04, 1-11.

Rompas, V. V., Elim, I., & Mawikere, L. (2015). Penerapan Konsep Sunk Cost Terhadap

Keputusan Pembiayaan Aktiva Tetap Pada Pt. Jaya Perkasa Propertindo. Jurnal Emba , Vol.3 No.1, Hal. 562-569.

Rudy, L. J. (2020, April 18). Kekurangan Sunk-Cost: Bagaimana Menghindari Bias

Berdasarkan    Keputusan Masa Lalu. Retrieved from envato-tuts: https://business.tutsplus.com/id/tutorials/sunk-cost-fallacy-how-to-avoid-bias-based-on-past-decisions–cms-26642

 

 

 

 

Leave a Reply