Value Trap (Accountingpedia)


Pengertian     

Value trap adalah satu kondisi dimana sebuah saham tampak murah karena angka-angka indikator valuasinya (PER, PBV, dst) terbilang rendah, namun valuasi yang rendah tersebut sebenarnya tidak  bisa dikatakan murah, melainkan memang sudah merupakan valuasi wajarnya, misalnya karena perusahaannya tidak memiliki kinerja fundamental yang bagus, dan juga tidak menawarkan prospek apapun. Fokus dari value investing adalah mencari saham-saham yang dijual di bawah harga wajarnya. Biasanya, sumber informasi utama saat melakukan perburuan tersebut adalah dengan melihat nilai PER (price to earning ratio) dan P/BV (price to book value). Anggapan umum yang sering digunakan adalah dengan membandingkan kedua rasio tersebut dengan saham-saham lain pada industri yang sama. Pada titik tersebutlah, investor terkadang menghadapi value trap.

Value trap bisa dikelompokkan jadi dua jenis :

            Pertama, saham yang valuasinya tampak sangat rendah dibanding saham-saham lain di sektor yang sama, demikian pula dibanding saham-saham lain BEI pada umumnya, tapi karena perusahaan yang bersangkutan dari dulu sampai sekarang tidak membukukan kinerja bagus, prospeknya belum jelas, dan nama perusahaannya jarang dikenal publik, maka jadilah sahamnya tidak mengalami kenaikan, karena memang hampir tidak ada investor yang membelinya.

            Kedua, seringkali terjadi sebuah perusahaan yang tadinya membukukan kinerja fundamental bagus, namun seiring berjalannya waktu rugi terus, dan alhasil sahamnya juga turun terus hingga akhirnya valuasinya menjadi tampak murah. Misalnya perusahaan-perusahaan batubara, yang pada tahun 2009 – 2012 lalu membukukan kinerja bagus seiring dengan booming komoditas ketika itu, dan otomatis saham-saham batubara pada periode itu dihargai sangat mahal, tapi memasuki tahun 2012 kinerja para emiten batubara mulai turun, dan terus saja turun sampai tahun 2016. Alhasil saham-saham batubara juga ikut turun, beberapa diantaranya bahkan hingga PBV-nya tinggal 0.1 kali di tahun 2016 tersebut (saham INDY, waktu di harga 200 – 300).

Beberapa contoh dari value trap adalah

  1. PER atau PBV yang rendah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seringkali suatu saham memiliki PER atau PBV yang rendah karena alasan yang kuat. Kemungkinan sahamnya dihargai murah karena bisnisnya sudah tidak bisa tumbuh pesat lagi atau malahan terus-menerus merugi. Selalu curiga pada saham-saham dengan PER atau PBV yang rendah. Selidiki laporan keuangannya secara mendalam untuk mengetahui bahwa saham tersebut bukan merupakan value trap.
  2. Saham-saham cyclical yang dihargai murah. Saham cyclical seperti saham otomotif ataupun retail umumnya akan melonjak labanya saat kondisi ekonomi membaik. Saat kondisi ekonomi memburuk, saham-saham tersebut akan menurun drastis kinerjanya dan dihargai sangat murah. Sebenarnya tidak masalah kita membeli saham-saham cyclical yang dihargai dengan sangat murah asalkan kita mau bersabar menunggu sampai dengan ekonomi berekspansi dan mendongkrak labanya.
  3. Tidak ada katalis. Perusahaan yang stuck bisnisnya dan tidak memiliki produk baru yang dapat diandalkan akan terjebak pada kondisi tersebut dan pasar akan menghukumnya dengan menghargai sahamnya dengan murah. Jika kita membeli saham perusahaan seperti ini, kemungkinan kita akan terjebak di dalamnya dan sulit untuk keluar.
  4. Memandang kinerja hanya dalam jangka waktu yang pendek. Dalam 1-2 tahun, ada kemungkinan perusahaan akan mendapatkan durian runtuh yang dalam jangka panjang mungkin akan sulit berlanjut. Jika kita menilai suatu perusahaan hanya berdasarkan kinerjanya dalam beberapa periode saja, kita akan menilai bisnisnya terlalu tinggi dan jatuh ke dalam perangkap value.

Sumber :

Curtis, G. (2019, Juni 25). Value Traps: Bargain Hunters Beware! Diambil kembali dari Investopedia: https://www.investopedia.com/articles/stocks/08/value-trap.asp

Value Trap dalam Investasi. (2018, Maret 8). Diambil kembali dari Saham Online Indonesia: https://www.sahamonline.id/2018/03/value-trap-investasi-saham.html

Leave a Reply