Accounting Standar Resume (PSAK 68)

PSAK 68 : PENGUKURAN NILAI WAJAR

Bagian 2

Liabilitas dan Instrumen Ekuitas yang Dimiliki Pihak Lain sebagai Asset

Ketika harga kuotasian  untuk pengalihan liabilitas atau instrumen ekuitas milik entitas itu tidak tersedia dan liabilitas atau instrumen ekuitas milik entitas itu sendiri yang identik dimiliki pihak lain sebagai aset, nilai wajar diukur dari perspektif pelaku pasar yang memiliki liabilitas atau instrument ekuitas sebagai asset pada pengukuran.

Jika seperti itu, entitas mengukur nilai wajar liabilitas atau instrumen ekuitas sebagai berikut:

  1. Menggunakan harga kuotasian di pasar aktif (pasar aktif) untuk liabilitas atau instrumen ekuitas yang identik yang dimiliki pihak lain sebagai aset, jika harga tersebut tersedia. 
  2. Jika harga tersebut tidak tersedia, maka menggunakan input lain yang dapat diobservasi,
  3. Jika harga yang dapat diobservasi dalam seperti yang disebutkan diatas  tidak tersedia, maka menggunakan teknik penyediaan lain, seperti: pendekatan penghasilan dan pendekatan pasar.

Entitas menyesuaikan harga liabilitas kuotasian atau instrumen ekuitas entitas sendiri yang dimiliki pihak lain sebagai aset jika terdapat faktor spesifik atas aset tersebut yang tidak dapat diterapkan pada penilaian nilai wajar atau instrumen ekuitas. Ketika entitas menerapkan teknik nilai kini maka dapat dengan memperhitungkan salah satu dari hal sebagai berikut : arus kas keluar  masa depan yang diperkirakan akan dikeluarkan pelaku pasar dalam memenuhi kewajiban, dan  jumlah yang akan diterima pelaku pasar untuk menerbitkan liabilitas atau instrument ekuitas yang identik.

Risiko wanprestasi (risiko non-kinerja). 

Saat  menghitung  nilai wajar liabilitas, entitas memperhatikan dampak risiko kreditnya dan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kemungkinan bahwa kewajiban tidak akan terpenuhi.  Jika peningkatan kualitas kredit dinilai secara terpisah dari liabilitas, maka penerbit akan memperhitungkan reputasi kreditnya dan bukan reputasi kredit dari penjamin pihak ketiga ketika mengukur nilai wajar liabilitas.

Pembatasan yang Mencegah Pengalihan Liabilitas atau Ekuitas Milik Entitas Sendiri

Saat entitas menukur nilai wajar liabilitas atau instrument ekuitas milik sendiri maka input yang dimasukkan terpisah bergantung pada input lain yang terkait dengan pengawasan yang mencegah pengalihan liabilitas atau instrumen ekuitas milik entitas  sendiri tersebut. 

​​Nilai wajar liabilitas keuangan dengan fitur dapat ditarik kembali sewaktu-waktu

Yaitu tidak kurang dari jumlah yang terutang pada saat penarikan, didiskontokan dari tanggal pertama jumlah tersebut dapat disyaratkan untuk dibayar. 

Penerapan pada Aset Keuangan dan Liabilitas Keuangan dengan Posisi Saling Hapus dalam Risiko Pasar atau Risiko Kredit Pihak Lawan

Ada  pengecualian untuk mengukur nilai wajar kelompok aset keuangan dan liabilitas keuangan berdasarkan harga yang akan diterima untuk menjual pada posisi net long (yaitu aset) untuk mengeksposur yang dibayar atau dibayar untuk mengalihkan pada cara net short (cara liabilitas) untuk risiko yang terlihat dalam tertentu dalam  transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran dalam kondisi pasar saat ini. Entitas turunan yang boleh menggunakan pengecualian tersebut yaitu :

  1. kelompok organisasi aset keuangan dan liabilitas keuangan berdasarkan eksposur neto entitas terhadap risiko pasar tertentu dengan manajemen risiko  atau strategi investasi entitas yang terdokumentasi
  2. menyediakan informasi atas dasar tersebut mengenai kelompok aset keuangan dan liabilitas keuangan kepada anggota manajemen entitas
  3. disyaratkan atau telah memilih untuk mengukur aset keuangan dan liabilitas keuangan tersebut pada nilai wajar dalam laporan keuangan pada setiap akhir periode pelaporan.

Pengecualian yang tidak terkait dengan penyajian laporan keuangan.  Dalam beberapa kasus dasar penyajian instrumen keuangan dalam laporan keuangan yang berbeda dengan dasar pengukuran instrumen keuangan. Pengecualian tersebut hanya berlaku untuk aset keuangan, liabilitas, dan kontrak lainnya dalam ruang lingkup PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran. 

Eksposur terhadap Risiko Pasar

Saat menggunakan pengecualian tersebut maka entitas perlu menerapkan harga dalam bid-ask spread yang merepresentasikan nilai wajar dalam keadaan tersebut pada  eksposur neto entitas terhadap risiko pasar tersebut. Entitas harus memastikan bahwa entitas-entitas yang terekspos dalam kelompok aset keuangan dan liabilitas keuangan tersebut secara substansial adalah sama. 

Eksposur terhadap Risiko Kredit Pihak Lawan Tertentu

Ketika menggunakan pengecualian itu untuk mengukur nilai lawan kelompok keuangan dan liabilitas keuangan yang dilakukan dengan pihak tertentu maka harus memperhitungkan dampak eksposur netonya terhadap risiko kredit pihak lawan atau eksposur neto pihak lawan terhadap risiko entitas dalam pengukuran nilai wajar ketika pelaku pasar akan mempertimbangkan segala sesuatu yang ada saat ini yang mengurangi eksposur risiko jika terjadi gagal bayar.

Nilai Wajar pada Saat Pengakuan Awal

Harga transaksi adalah semua harga yang dibayar untuk memperoleh aset atau harga yang diterima untuk mengambil alih liabilitas. Dalam banyak kasus harga transaksi akan sama dengan nilai wajar. Ketika menentukan apakah  nilai wajar pada pengakuan awal sama dengan harga transaksi, perhitungan memperhitungkan faktor yang spesifik atas transaksi dan aset atau liabilitas tersebut.  Jika Pernyataan lain mensyaratkan entitas untuk mengukur aset atau liabilitas awalnya pada nilai wajar dan harga transaksi yang berbeda dari nilai wajar, maka entitas harus mengakui keuntungan  atau kerugian yang dihasilkan dalam laba rugi, dinyatakan dalam Pernyataan tersebut.

Teknik Penilaian

Yaitu entitas menggunakan teknik produksi yang sesuai dengan keadaan dan ada data yang memadai guna mengukur nilai wajar, memaksimaikan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan menggunakan input yang tidak dapat diobservasi. Tujuannya adalah untuk mengestimasi harga saat transaksi atau mengalihkan liabilitas akan terjadi antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran dalam kondisi pasar saat ini.  Ada tiga pendekatan yang dapat dipakai yaitu pendekatan pasar, biaya dan penghasilan. 

Dalam berbagai kasus, penggunaan teknik akan berbeda-beda ada yang menggunakan teknik tunggal, ada yang beberapa teknik  pengukuran. Jika beberapa teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur nilai, maka hasilnya dievaluasi kewajaran nilai yang diindikasikan oleh hasil tersebut.  Pengukuran nilai wajar adalah titik dalam rentang tersebut yang mewakili nilai wajar dalam keadaan tersebut.

Jika transaksi bernilai wajar pada saat pengakuan awal dan teknik yang menggunakan input yang tidak dapat diobservasi akan digunakan untuk mengukur nilai yang wajar dalam periode selanjutnya, maka teknik pengukuran dikalibrasi sehingga pada saat pengakuan awal hasil dari teknik penilaian akan sama dengan harga transaksi. Kalibrasi memastikan bahwa teknik penilaian  mencerminkan kondisi pasar saat ini dan membantu apakah perlu melakukan penyesuaian atau tidak.

Teknik yang digunakan untuk mengukur nilai wajar diterapkan secara konsisten.  Akan tetapi, suatu perubahan, dapat terjadi jika perubahan tersebut menghasilkan pengukuran yang sama atau lebih memperlihatkan nilai wajar yang lebih baik. Teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur nilai wajar penggunaan input yang dapat diobservasi dan menggunakan input yang tidak dapat diobservasi. 

Dalam beberapa kasus yang relevan entitas dapat memberikan suatu premi atau diskon.  Akan tetapi, pengukuran nilai yang wajar tidak memasukkan premi atau diskon yang tidak konsisten dengan unit akun dalam Pernyataan yang mensyaratkan atau rekomendasi pengukuran nilai wajar. Dalam seluruh kasus, jika terdapat harga kuotasian di pasar aktif untuk aset atau liabilitas, maka entitas menggunakan harga tersebut tanpa diukur ketika mengukur nilai wajar,

Jika ditemui ada harga bid dan harga ask, maka harga dalam bid-ask spread yang merepresentasikan nilai wajar dalam keadaan tersebut digunakan untuk mengukur nilai wajar, terlepas dari mana input tersebut dikategorikan dalam hirarki nilai  wajar

Pernyataan ini tidak menentukan penentuan harga tengah pasar (penetapan harga pasar menengah) atau konvensi harga yang digunakan pelaku pasar sebagai panduan praktis (praktis) untuk mengukur nilai wajar dalam bid-ask spread. 

Hirarki Nilai Wajar

Untuk meningkatkan konsistensi dan keterbandingan dalam pengukuran nilai yang wajar dan pernyataan yang terkait, Pernyataan ini mengacu pada hirarki nilai wajar yang mengategorikan dalam tiga tingkat input untuk teknik yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar yaitu input Level 1, input level 2 dan input Level 3. 

Input Level 1 adalah harga kuotasian (tanpa survei) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik yang dapat diakses saat  tanggal pengukuran. Harga kuotasian di pasar aktif menyediakan bukti yang paling baik dari nilai yang wajar dan digunakan tanpa mengukur nilai wajar yang tersedia.

Input Level 1 akan tersedia untuk kebanyakan aset keuangan dan liabilitas keuangan, beberapa dapat  dipertukarkan di beberapa pasar aktif.  Oleh karena itu, control  pada Level 1 adalah untuk menentukan dua hal yaitu, pasar utama untuk aset atau liabilitas dan apakah entitas dapat melakukan transaksi untuk aset atau liabilitas tersebut.

Entitas tidak membuat penyesuaian terhadap input Level 1 kecuali dalam beberapa keadaan sebagai berikut:

  1. ketika entitas memiliki aset  atau liabilitas  yang serupa dalam jumlah besar yang diukur pada nilai wajar dan harga yang wajar dalam pasar aktif tersedia tetapi tidak dapat diakses untuk setiap aset atau liabilitas tersebut secara individual. 
  2. ketika kuotasian di pasar aktif tidak merepresentasikan nilai wajar pada tanggal pengukuran. 
  3. ketika mengukur nilai wajar atau instrumen ekuitas milik entitas sendiri

jika ada urutan asetata liabilitas di pasar aktif maka nilai wajar aset atau liabilitas yang diukur dalam Level  1 sebagai produk dari harga kuotasian untuk aset atau liabilitas individu dan kuantitas yang dimiliki oleh entitas.  Hal ini berlaku saat volume perdagangan harian normal di pasar tidak mampu untuk menyerap kuantitas yang dimiliki, dan menempatkan pesanan untuk menjual dalam transaksi tunggal dapat mempengaruhi kuotasian tersebut.

Input Level 2, Yaitu input selain harga kuotasian yang termasuk dalam Level 1 yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara langsung atau tidak langsung.  Jika aset atau liabilitas memiliki persyaratan (kontraktual) yang spesifik, maka input Level 2 harus dapat diobservasi untuk total jangka waktu yang substansial dari aset atau liabilitas tersebut.  Level Input 2 termasuk hal sebagai berikut

  1. harga kuotasian untuk aset atau liabilitas yang serupa di pasar aktif. 
  2. harga kuotasian untuk aset atau liabilitas yang identik atau serupa di pasar yang tidak aktif. 
  3. input selain dari harga kuotasian yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas,
  4. input yang mengambil pasar (input yang dikuatkan pasar). 

Penyesuaian terhadap input Level 2 akan beragam, bergantung pada faktor spesifik atas aset atau liabilitas.  Faktor tersebut termasuk hal sebagai berikut: kondisi atau lokasi aset;  tingkat di mana yang terkait dengan aset atau liabilitas dan volume atau tingkat aktivitas di mana input dapat diamati. 

Input Level 3, merupakan input yang tidak dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas.  Hal ini digunakan untuk mengukur nilai wajar  input yang dapat diobservasi yang relevan tidak tersedia. Pengukuran nilai wajar tetap sama. Oleh karena itu, input yang tidak dapat diobservasi mencerminkan asumsi yang akan digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga aset atau liabilitas, termasuk asumsi  mengenai risiko. 

Asumsi risiko termasuk risiko yang diwariskan dalam teknik pengukuran yang digunakan untuk mengukur nilai wajar dan risiko yang diwariskan dalam input untuk teknik.  Pengukuran yang tidak menghitung atas risiko yang tidak akan mewakili penilaian nilai wajar jika pelaku pasar akan menghitung tabel yang menentukan harga atau penilaian.

Entitas dapat mengembangkan input yang tidak dapat diobservasi menggunakan informasi yang tersedia dalam keadaan tersebut, yang dapat termasuk data milik entitas sendiri. Dalam mengembangkan masukan yang tidak dapat diobservasi, entitas dapat memulai dengan datanya sendiri, tetapi perlu menyesuaikan data tersebut jika informasi yang umum tersedia bahwa pelaku pasar lain akan menggunakan data yang berbeda atau terdapat suatu hal tertentu pada entitas yang tidak tersedia bagi pelaku pasar lain. 

PENGUNGKAPAN

Entitas mengungkapkan dua hal sebagai berikut :

  1. untuk aset dan liabilitas yang diukur pada nilai wajar secara berulang atau tidak berulang dalam laporan keuangan setelah pengakuan awal, teknik pengukuran dan input yang digunakan untuk mengembangkan pengukuran tersebut. 
  2. pengukuran nilai yang wajar yang berulang yang menggunakan input yang tidak dapat diobservasi yang signifikan (Level 3), dampak dari pengukuran pada laba rugi atau tahap laporan lain untuk periode tersebut. 

Untuk memenuhi hal tersebutt maka perlu mempertimbangkan seluruh hal sebagai berikut: tingkat rincian yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan pengungkapan; berapa banyak yang ditentukan pada setiap persyaratan; berapa banyak penggabungan atau pemisahan yang perlu dilaksanakan dan apakah pengguna kngran keuangan yang membutuhkan informasi tambahan untuk mengembangkan informasi yang memerlukan informasi. Entitas perlu mengungkapkan hal-hal berikut :

  1. untuk pengukuran nilai yang wajar dan tidak berulang, pelaporan, dan untuk pengukuran nilai yang wajar padaakhir periode pelaporan dan untuk pengukuran nilai wajar tidak berulang alasan utnuk pengukuran.
  2. untuk pengukuran nilai yang wajar dan tidak berulang, tingkat hirarki nilai wajar di mana pengukuran nilai wajar dikategorikan secara total (Level 1, 2 atau 3).
  3. untuk aset dan liabilitas yang dimiliki pada akhir periode pelaporan yang diamati pada nilai yang wajar,
  4. untuk pengukuran nilai yang wajar dan tidak berulang yang dikategorikan dalam Level 2 dan Level 3 hirarki nilai wajar, deskripsi mengenai teknik penilalan dan input yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar. 
  5. pengukuran nilai wajar berulang yang dikategorikan dalam Level 3 hirarki nilai wajar, rekonsiliasi dari saldo awal ke saldo akhir, mengungkapkan terpisah perubahan selama periode.
  6. untuk pengukuran nilai wajar berulang yang dikategorikan dalam Level 3 hirarki nilai wajar,
  7. untuk pengukuran nilai wajar berulang dan tidak berulang yang dikategorikan dalam Level 3 hirarki nilai wajar,
  8. untuk pengukuran nilai wajar berulang yang dikategorikan dalam Level 3 hirarki nilai wajar:
  9. untuk pengukuran nilai yang wajar dan tidak berulang, jika penggunaan tertinggi dan terbaik aset yang tidak berbeda dari penggunaan saat ini, maka mengungkapkan fakta tersebut dan mengapa aset yang tidak digunakan dengan cara yang berbeda dari penggunaan dan terbaiknya. 

Entitas menentukan kelas aset dan liabilitas yang sesuai dengan sifat, faktor dan risiko aset atau liabilitas dan level hirarki nilai wajar di mana pengukuran nilai wajar tersebut dikategorikan. Entitas mengungkapkan dan mengikuti kebijakannya secara konsisten dalam menentukan kapan antarwaktu pada tingkat hirarki nilai wajar telah terjadi. Kebijakan waktu mengenai wujud aslinya dan untuk perpindahan ke tingkat tersebut dan untuk keluar dari tingkat tersebut. 

Untuk setiap kelas aset dan liabilitas yang tidak dinilai pada nilai yang wajar dalam laporan dalam laporan wajar maka untuk aset dan liabilitas tersebut, entitas tidak perlu menyediakan pengungkapan lain yang disyaratkan oleh Pernyataan ini.Untuk liabilitas yang diukur pada nilai wajar dan diterbitkan dengan peningkatan kualitas kredit pihak ketiga yang tak terpisahkan, penerbit mengungkapkan keberadaan peningkatan kualitas kredit dan apakah hal tersebut telah tercermin dalam pengukuran nilai wajar liabilitas. Entitas menyajikan pengungkapan kuantitatif yang sudah disyaratkan dalam format tabel kecuali terdapat format lain yang lebih sesuai.

Sumber : Standar Akuntansi Keuangan (SAK), efektif per 1 Januari 2018, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Leave a Reply