Respon Sosial oleh Bia Permata Putri Akuntansi 2013

Tak pernah ada rampungnya, kata “moral” selau saja menjadi buah bibir yang populer untuk menggambarkan secara implisit keadaan negara tercinta ini, pasalnya seperti sudah menjadi laporan rutin tahunan, masalah moral tidak pernah lepas dari berbagai liputan media. Kendor atau tidak moral muda-mudi bangsa negeri tercinta kerap kali dikaitkan dengan rapuhnya negara dalam berdiri dan menjalani arah yang semestinya, untuk tetap kuat dan berjaya. Memang benar, moral layaknya alat navigasi penuntun jalan dan muda-mudi bangsa dengan dorongan semua kalangan layaknya nahkoda, alih kemudi sepenuhnya berada dalam genggaman tangannya, dan di atas pundaknya lah nasib negara ditempatkan dengan penuh pengharapan.

Namun sangat di sayangkan, banyak sekali pemberitaan yang membuat miris semua kalangan, dari mulai pesta narkoba dan sex oleh mahasiswa-mahasiswa, salah satunya adalah yang terjadi daerah depok (9/5/2015) baru-baru ini, kemudian pembunuhan yang di lakukan oleh mahasiswa di salah satu universitas di Kalimantan Timur (18/3/2013) hanya karena masalah pribadi, dan aksi tawuran antar fakultas di Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Timur (17/12/13) yang akhirnya mengingatkan kembali pada tragedi 1998 silam yang memilukan, miris memang karena pemberitaan ini menambah catatan panjang nan kompleks betapa rapuhnya moral muda-mudi yang „katanya‟ intelek dan maha sebagai agen perubahan bangsa.

Kini “anak-anak” bangsa juga turut menunjukkan betapa dahsyatnya kerapuhan moral negeri tercinta. Sempat terjadi pemberitaan yang mencengangkan ketika tindakan bullying di lakukan oleh pelajar yang masih duduk di bangku sekolah dasar di daerah bukit tinggi (14/10/14) dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh bocah-bocah kelas 1 sekolah dasar (28/04/15) karena mengikuti salah satu aksi tayangan sinetron di layar kaca. Memang tidak di salah kan ketika hal ini di lakukan oleh bocah yang memang belum pandai mem-filter mana yang baik dan yang buruk. Namun, seiring berjalannya waktu, siapa sangka tentu tindakkan ini akan semakin memelorotkan moral anak-anak bangsa menjadi lebih parah lagi.

Kemudian yang paling memilukan adalah mengenai pemberitaan penahanan puluhan petani di daerah Kalimantan (10/5/15) yang di lakukan karena mereka tidak mau tanahnya di kuasai oleh salah satu Perseroan Terbatas yang cukup besar, lata belakang tindakan adalah untuk keuntungan semata. Dan parahnya, tindak penyelewengan moral juga kerap kali dilakukan oleh para petinggi-petinggi penting negara dengan sekelumit tindak korupsinya yang hebat. Kasus-kasus tersebut terjadi, tentu dengan alasan yang sudah tidak perlu di pertanyakan lagi, „dasar moral lah‟ yang mengendalikan penuh hal ini. Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Tanpa adanya pemahaman akan moral bisa kah muda-mudi bangsa memegang teguh perannya?. Kebobrokan moral dari awal proses pembelajaran tentu akan berimbas pada tindak kejahatan yang lain, seperti yang kini hangat terjadi adalah tindak prostitusi online, pembegalan yang mejamur sampai pada pembelaan dan peringanan hukuman pada kasus korupsi berat. Benar lah nanti pada akhirnya, bahwa “Hukum itu tumpul ke atas tajam kebawah”. Dan benar pula, seirng dengan berjalannya waktu, dekadensi moral tidak hanya terjadi pada satu golongan tetapi merambah ke semua lapisan masyarakat bangsa.

PR berat bagi generasi emas muda-mudi bangsa adalah bagaimana merampungkan masalah ini yang terbilang kompleks, mengingat wakil-wakil rakyat pun tak mampu menuntaskannya. Dan tetapkah muda-mudi ingin terus menjadi yang di salahkan sedangkan bukan diri ini yang melakukan?. Potret parah moral negeri tercinta jangan sampai membuat kita lengah dan tutup mata , berangkat dari sini lah mari kita bersama-sama ikut turut dalam pembentukan kembali moral bangsa demi Indonesia yang lebih baik lagi, tidak perlu melakukan hal yang besar sekaligus, tetapi dengan tetap berpegang teguhlah pada prinsip „jujur‟ dalam menjalani proses yang wajar dalam perkuliahan.

Perlu mengingat kembali pula, mahasiswa akan menjadi bagian penting di masyarakat menggantikan pemimpin-pemimpin dan membentuk kembali anak-anak bangsa di masa mendatang, di tangannyalah nasib negara dipertaruhkan, hanya akan ada dua pilihan, ke arah baik atau buruk kah negara ini akan kita bawa? Kalau tidak sekarang kapan lagi?

End.