Respon Sosial oleh Linda Amelia Akuntansi 2012.

Sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari orang-orang dengan berbagai karakter dan kepribadiannya yang berbeda-beda. Sebagian dari kita memiliki sifat yang mudah bergaul, punya banyak teman, dan menyukai keramaian, yang dalam bahasa psikologis disebut ekstrovert. Bagi mereka, akan lebih nyaman saat berada di tempat dimana banyak orang di sekelilingnya. Mereka lebih terbuka dan karenanya memilki banyak teman bukan hal yang sulit. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang dengan kepribadian introvert. akan sulit bagi mereka untuk memilki teman. Selain karena mereka cenderung “memilih teman” pada kenyataannya orang lain sungkan mendekati dengan berbagai alasan. Suka menyendiri, pendiam, tidak menyukai keramaian dan berwajah muram sering dilontarkan sebagai alasan mereka menjauhi orang-orang introvert. Berwajah muram disini dianalogikan dengan membenci.

Perlakuan tidak adil kerap kali tertuduh pada seseorang yang introvert. Hal ini lumrah terjadi di masyarakat, terutama di lingkungan pendidikan seperti sekolah atau kampus. Bahkan tanpa disadari, justru kita sendiri menjadi pelaku diskriminatif tersebut. Pembedaan perlakuan yang dimaksud mulai dari hal-hal sepele seperti diacuhkan, enggan mendekati, pendapat yang tidak di gubris atau yang lebih terlihat jelas, saat pembagian anggota kelompok misalnya. Seseorang yang pendiam biasanya dihindari agar tidak masuk kelompok. Alasannya adalah mereka sering di anggap tidak bisa berkomunikasi dengan baik dan di sinyalir akan berdampak buruk pada penilaian kelompok. Alhasil, dalam satu kelas ada dua kubu yang secara kasat mata terpisah antara golongan introvert dan ekstrovert.

Pandangan “si kutu buku” amat lekat pada kepribadian introvert. Berkacamata tebal dan berpenampilan culun menjadi modal untuk membully bahkan memanfaatkan kebaikan mereka. Mengerjakan tugas sekolah milik temannya, membantu mengerjakan soal ujian dan sebagainya. Mereka di dekati hanya bila ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Dilihat dari sudut pandang sosial permasalahan seperti ini jelas tidak bisa di biarkan. Selama ini masih banyak yang belum menyadari bentuk diskriminatif semacam ini sehingga hal tersebut dianggap hal yang lumrah dan wajar. Padahal, di sisi lain kita tahu bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama. Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri, yang membutuhkan satu sama lain. Tanggapan miring pada si introvert harus segera di tepis, baik introvert maupun ekstrovert memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada sebuah penelitian psikologis di Swiss, yang di lakukan Carl Jung  mendapatkan banyak fakta menarik mengenai dua kepribadian ini. Ekstrovert tidak selamanya baik dan introvert tidak selalu buruk.

Faktanya, seorang introvert adalah pendengar yang baik. Mereka akan mendengarkan orang lain dengan seksama dan mampu meluangkan waktu sepenuhnya tanpa terkesan menggurui. Sikapnya yang pendiam bukan berarti pemalu. Seorang yang introvert membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses hal-hal sebelum di utarakan dan analitis sebelum berbicara dan memutuskan suatu hal. Mereka lebih sering terlihat menyendiri karena membutuhkan “time me” dengan dosis lebih. Banyak waktu yang mereka luangkan untuk kegiatan soliter seperti membaca dan menulis. Mereka lebih memilih kualitas daripada kuantitas. Untuk itu, mereka merasa cukup mempunyai sedikit teman tetapi hubungan mereka mandalam, dibandingkan dengan mempunyai banyak teman tetapi hanya sekedar kenal saja.

Kelebihan atau kekurangan dari masing-masing kepribadian tidak bisa dijadikan tolak ukur seseorang dianggap baik atau tidak baik. Seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, kedua kepribadian diatas ada dalam diri manusia. Hanya saja, kita memiliki salah satu yang dominan diantaranya. Baik introvert maupun ekstrovert keduanya adalah baik jika dikelola dan di kembangkan dengan baik pula. Untuk itu, judgment negatif terhadap mereka yang introvert tidak bisa di benarkan. Bagaimana pun juga setiap manusia mempunyai hak yang sama. Tinggal bagaimana kita menerima dan menghargai satu sama lain.