Hai fellas, gimana kabarnya nih? Semoga baik dan sehat wal’afiat yaa.. Balik lagi di kording bulan Juni. Yeayy! Pasti pada penasaran kan kenapa kording bulan Juni judulnya ketupat hayoo, pasti ada yang udah tau dan, masih ada yang bingung wkwk. Nih tim jurnals jelasin yaa *ehem-ehem,

Ketupat tidak lepas dari perayaan Idul Fitri. Idul Fitri tahun ini jatuh pada bulan Juni, tentunya di situ ada satu hal yang tidak pernah pisah dari perayaan Ketupat Lebaran. Apakah ketupat ini hanya sekedar pelengkap hari raya saja ataukah ada sesuatu makna di dalamnya?

Dalam filosofi Jawa, Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Yaitu dengan cara Tradisi sungkeman (bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun) Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.
Laku papat artinya empat tindakan. Empat tindakan itu:

  1. Lebaran: Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.
  2. Luberan: Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.
  3. Leburan: Maknanya adalah habis dan melebur. Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.
  4. Laburan: Berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Itulah makna dan arti serta filosofi dari Ketupat. Maka dari itulah, tim jurnals menagngkat tema Lebaran yang berjudul Ketupat. Selamat membaca^^

Kording bulan Juni

Leave a Reply