Pendidikan Tinggi berperan strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi telah ditempuh melalui berbagai cara. Mulai dari standar kompetensi lulusan, standar isi pembelajaran, standar dosen dan tenaga kependidikan hingga standar sarana dan prasarana. Dari semua standar yang telah ditetapkan, ada salah satu hal yang berperan dalam proses peningkatan prestasi mahasiswa yaitu sarana prasarana. Standar sarana dan prasarana merupakan kriteria minimal tentang sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan isi dan proses pembelajaran dalam rangka pemenuhan capaian pembelajaran lulusan, hal ini kemudian tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2014 nomor 49 tentang Standar Nasional Perguruan Tinggi.

Standar prasarana pembelajaran yang disebut dalam pasal 31 Permendikbud tahun 2014 nomor 49 antara lain adalah lahan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium/studio/bengkel kerja/unit produksi, tempat berolah raga, ruang untuk berkesenian, ruang unit kegiatan mahasiswa, ruang pimpinan perguruan tinggi, ruang dosen, ruang tata usaha dan fasilitas umum. Kegiatan belajar mengajar khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis paling banyak terjadi di dalam ruang kelas, sehingga ruang kelas adalah salah satu prasarana paling vital.

Ruang kelas berarti membangun dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi siswa (Ormrod, 2008). Pembelajaran efektif perlu ditunjang oleh suasana belajar yang memadai (Mulyasa, 2009). Semakin banyaknya peserta didik dalam satu ruangan maka semakin besar pula kemungkinan suasana belajar menjadi kurang kondusif. Selain itu dosen juga akan lebih susah untuk memonitor semua mahasiswa. Hal ini sejalan dengan respon 113 mahasiswa akuntansi yang dijadikan sampel.

Menurut Rencana Strategis (RENSTRA) Universitas Jenderal Soedirman Tahun 2015-2018, Pada Tahun 2014 ketersediaan ruang kuliah di Universitas Jenderal Soedirman mencapai 1,27 m2/mahasiswa. Di Jurusan S1 Akuntansi sendiri pada Tahun Akademik 2015/2016 semester Ganjil rata rata ketersediaan ruang 2,38 m2/mahasiswa, dengan rincian 2,50 m2/mahasiswa pada kelas non internasional dan 2,09 m2/mahasiswa pada kelas internasional. Jauh diatas standar ideal yaitu 1 m2/mahasiswa, bahkan masih lebih luas dibanding rata-rata se Unsoed.

Kelas terpadat, terdapat pada kelas Pengantar Akuntansi I A, dengan ketersediaan ruang 1,18 m2/mahasiswa. Namun beberapa mahasiswa yang dimintai pendapat pada kelas tersebut tidak merasa terganggu dengan kepadatan kelas.

Menurut Wakil Dekan I, penambahan kuota dipilih karena ketersediaan ruang pada jam 7.30-13.00 sangat minim, selain itu, kekurangan tenaga pengajar juga menjadi hambatan. Beberapa pengajar sungkan untuk mengisi kelas sore. Namun nampaknya pada tahun ajaran yang baru, kurangnya ketersediaan ruang akan sedikit teratasi, dengan dibangunnya gedung baru milik Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang didalamnya terdapat penambahan 4 ruang kelas berkapasitas 48 orang, ruang diskusi dan ruang laboratorium komputer.

Atas kebijakan penambahan kuota yang telah diambil, dengan melihat realita yang ada dilapangan antara lain, masih idealnya ruang belajar yang didapat bahkan di kelas terpadat yaitu 1,18 m2/mahasiswa maka HMJA menyatakan mendukung langkah yang telah diambil terkait kuota kelas perkuliahan. (Bidang 4 Advokasi dan Hubungan Eksternal)