POLEMIK KASUS YUYUN

         Resos merupakan salah satu proker Bidang 3 Pengabdian Masyarakat HMJA 2016 berupa artikel sosial yang merupakan hasil opini dan pendapat penulis. Salah satu ajang yang dapat digunakan oleh anggota HMJA untuk menyuarakan minat menulis mengenai fenomena sosial, lingkungan, pendidikan, maupun topik-topik lain. Pada edisi bulan ini, HMJA mengangkat topik mengenai. Artikel ini merupakan buah pikir . Secara garis besar, penulisan artikel ini bersifat netral dengan sudut pandang penulis yang melihat dari segi sosial kemanusiaan. Dalam pembahasan artikel ini, semoga pembaca dapat memahami masalah yang ada serta dapat berpikir secara kritis mengenai masalah yang terkandung didalamnya, sehingga tidak terjadi salah penafsiran maupun perbedaan paham. Setiap pembaca memiliki kebebasan meyakini apa yang dianggap perlu dibenarkan dan yang disalahkan, semoga dapat bermanfaat dan tidak menyebabkan pemikiran negatif yang tidak diinginkan.

          Hai para pembaca yang budiman, saya akan berbagi opini mengenai berita yang akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan diberbagai media, yaitu kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun (14).Siapa sangka gadis belia yang dalam perjalannya pulang ke rumah setelah menuntut ilmu, diperkosa dan dibunuh oleh empat belas orang lelaki yang sedang mabuk, kemudian jasadnya dibuang ke dalam jurang. Hal ini menorehkan tinta hitam bagi keselamatan perlindungan anak di indonesia. Lalu apakah para tersangka tersebut mendapatkan ganjaran yang setimpal dari perbuatan yang telah mereka lakukan?

      Sebagai manusia yang masih awam mengenai hukum, saya merasa mungkin hukuman yang pantas bagi sekawanan lelaki beringas tersebut adalah hukuman yang seberat-beratnya atau hukuman mati. Perbuatan yang telah mereka lakukan merupakan fakta tragis terhadap degradasi moral di negeri antah berantah ini. Hal ini menyisakan isak tangis bagi keluarga yang ditinggalkan. Sudah sepantasnya para tersangka dihukum seberat-beratnya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

         Pada kasus ini, para tersangka tersebut diantaranya tujuh orang dibawah umur, lima orang berusia diatas 17 tahun keatas, sedangkan dua orang masih dalam pengejaran. Sementara ini mereka dapat dijerat sanksi dengan pasal 76 D UU Nomor 35, tentang perlindungan anak dan terancam hukuman penjara 15 tahun. Pasal 338 KUHP tentang menghilangkan nyawa orang dengan ancaman 15 tahun penjara, dan pasal 536 KUHP tentang mabuk-mabukan ditempat umum dengan ancaman 3 hari penjara. Pidana tersebut berlaku bagi lima orang tersangka yang sudah tertangkap dan dapat dijerat hukuman mati jika terbukti adanya motif pembunuhan berencana. Sedangkan tujuh orang yang berusia dibawah uumur dikenai ancaman pidana 10 tahun sesuai dengan UU nomor 11 tahun 2012, tentang sistem peradilan anak yang mengatur soal mekanisme hukuman terhadap anak dibawah umur maksimal hanya bisa dihukum 10 tahun. Bagi tersangka yang berusia dibawah umur mendapatkan keringanan dari sistem peradilan hukum. Mungkin hal tersebut terdengar tidak adil setelah apa yang mereka perbuat, tetapi sebagai negara hukum semestinya kita sebagai masyarakat harus menghormati peraturan yang berlaku dan tidak semena-mena menuntut ketidakadilan yang dirasakan. Hukuman tersebut pastinya memberikan efek jera terhadap mereka agar tidak melakukan tindak kriminal,

       Disni saya ingin menyampaikan bahwa, kita sebagai masyarakat budiman hendaknya menghormati peraturan yang tidak sembarang dan melalui proses panjang dalam perumusannya, dan tidak bersikeras hanya menuntut ketidakadilan tersebut. Percayakan hukuman tersebut kepada pihak yang berwenang, dan peran kita disini adalah mengawasi apakah peraturan telah berjalan dengan semestinya. Semoga kasus ini dapat menjadi bahan evaluasi terhadap pendidikan moral serta perlindungan anak di Indonesia dan dapat menemukan solusi yang tepat untuk kedepannya. Pendampingan orang tua dalam pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dianggap enteng karena disitulah nilai moral dapat ditanamkan. Mungkin peran serta masyarakat dapat dilakukan dengan mendukung program pemerintah terhadap pendidikan moral dan perlindungan anak.

Penulis : Aditya Darmawan – Akuntansi 2013

Penanggungjawab : Gatot Kuswan – Ketua HMJA 2016