Depresi Pada Remaja

Ada banyak masalah sosial yang terjadi di Indonesia mulai dari politik sampai ekonomi, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Namun dalam kesempatan ini saya akan membahas masalah sosial pada remaja. Remaja dikenal sebagai masa-masa mencari pendirian, mencari jati diri, dan masa yang masih bimbang maka dari itu waktu ini akan menjadi waktu yang paling rentan. Banyak remaja yang saya temui memiliki satu sumber masalah yang sama, yaitu sekolah.

Sekolah adalah tempat dimana kita menuntut ilmu. Namun di balik itu, banyak remaja (dari smp sampai sma) menganggap sekolah itu membunuh mimpi mereka, bahkan tak diperlukan. Banyak murid-murid remaja yang tidak semangat sekolah. Tingkat belajar merendah dan tingkat depresi remaja meningkat, bahkan kasus bunuh diri pun sudah banyak ditemui di kalangan anak-anak sekolah.

Kenapa sekolah dapat membunuh mimpi para remaja? Bila kita tanya anak kecil apa mimpi mereka, anak-anak pasti akan menjawab mimpi yang sangat mereka inginkan, astronaut, dokter, presiden, dan lain-lain. Namun bila kita tanya murid smp atau bahkan sma, mimpi mereka akan berubah. Dari smp yang mereka sudah mulai pesimis sampai akhinya sma mimpi mereka berubah atau bahkan tidak memiliki mimpi. Kenapa? Karena dari sistem sekolah itu sendiri sudah salah.

Murid di tuntut untuk bisa menguasai semua pelajaran. Bahkan kurikulum 2013 menuntut siswa untuk dapat menguasai pelajaran yang bukan jurusannya. Bila murid itu dapat IPS mereka harus memilih antara biologi, fisika, kimia, dan sebaliknya. Mereka ditekan untuk bisa menguasai semua mata pelajaran. Bahkan guru pun tidak bisa menguasai semua pelajaran di sekolah.

Sistem jam sekolah sampai sore, bahkan sabtu, pun salah. Murid dipaksa untuk belajar kurang lebih delapan jam di sekolah. Ditambah tugas rumah (pr) yang diberikan hampir semua guru. Manusia hanya memiliki waktu 24 jam, 8 jam untuk tidur, 8 jam sekolah, lalu hanya sisa 8 jam dan masih ada pr menumpuk? Tidak, manusia juga butuh istirahat. Hal ini sangat menekan para remaja dan berujung ke depresi. Dari pr yang menumpuk, sampai guru yang menyepelekan murid karena murid tersebut tidak mengerjakan pr atau tidak menguasai pelajaran dengan baik.

Tidak hanya hal-hal di atas, kemampuan murid dari semua proses belajar hanya diukur di UN saja. Betapa tinggi tekanan murid di sekolah untuk mencapai nilai UN yang baik untuk dapat masuk ke sekolah yang mereka idamkan. Semua perjuangan mereka di sekolah bisa dikatakan sia-sia oleh nilai UN. Bahkan sekarang ujian sekolah disetarakan, padahal cara guru mengajar dan materi pengajaran pasti ada yang berbeda. Maka dari itu tinggat depresi meningkat. Badan bisa sakit, jiwa pun bisa tersakiti. Banyak remaja yang menganggap masalah depresi adalah masalah yang sepele dan membiarkannya. Tidak hanya itu, orang-orang juga masih tabu akan adanya depresi. Maka dari itu bunuh diri menjadi meningkat di kalangan remaja, untuk mengakhiri tekanan-tekanan yang didapat.

Padahal, tujuan utama sekolah adalah untuk mendidik perilaku, untuk mendewasakan pikiran, memperluas koneksi. Namun, kenapa sekolah juga membunuh mimpi dan karakter siswa?

 

Ditulis oleh : Astria Wulan Permatasari

 

#VIVAHMJA
#HMJA2018
#BergerakBersama
#BidangPengabdianMasyarakat

 

Leave a Reply