Aditya Suryapratama Y. Angkatan : 2012

Permasalahan Energi di Indonesia bukanlah permasalahan yang mudah diselesaikan. Kebijakan Pemerintah saat ini yang menyesuaikan harga BBM dengan harga pasar dunia sebenarnya cukup sangat disesalkan banyak pihak. Masyarakat seolah-olah berhadapan dengan suatu ketidakpastian harga yang berimplikasi pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok apabila harga BBM naik. Mengacu pada data dari SKK Migas yang dikutip oleh Jakarta Post. Saat ini produksi minyak dalam negeri mencapai 800.000 barrel per day (bpd) sedangkan permintaan akan minyak sebesar 1,6 juta bpd dan diprediksi konsumsi minyak bumi Indonesia di tahun 2050 sebesar 2,8 juta bpd sedangkan produksinya kurang dari 96.000 bpd. Artinya mayoritas kebutuhan minyak nasional akan dipenuhi oleh impor yang membuat neraca perdagangan Indonesia semakin tertekan. Indonesia butuh solusi dan langkah nyata. Hukum ekonomi menghendaki apabila penawaran naik sedangkan permintaan tetap maka harga akan turun. Produksi minyak dunia pada saat ini sedang melimpah. Selain karena OPEC yang sedang menggenjot produksinya, saat ini juga telah berkembang energi minyak non konvensional baru yang bernama shale oil. Amerika Serikat berhasil mengembangkan teknologi baru untuk mengolah batuan shale menjadi energi baru dengan biaya produksi yang rendah sehingga mereka bisa menjual minyak dengan harga yang lebih rendah daripada minyak yang ditawarkan oleh OPEC dan negara lain seperti Rusia. Produksi Shale oil di Amerika berkembang cepat dari 111.000 bpd di tahun 2004 menjadi 553.000 bpd di tahun 2011 yang membuat Amerika Serikat berada pada kondisi impor minyak terendah selama 25 tahun. Berbeda dengan minyak konvensional, shale oil dibuat melalui proses extracting atau retorting. Batuan Shale yang berada di dalam perut bumi dipecah dengan menyemprotkan cairan kimia atau melalui tekanan air ke dalamnya. Batuan tersebut juga dapat diperoleh melalui penambangan. Setelah itu, batuan shale mengalami pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi sampai dengan 400 F melalui retorting untuk memisahkan senyawa likuid dari batuan shale. PricewaterhouseCoopers menganalisis bahwa produksi shale oil secara global berpotensi meningkat menjadi 14 juta barrel per day di tahun 2035, atau sekitar 12% dari total penawaran minyak di dunia. Mereka juga mengestimasi dengan shale oil menjadi pesaing serius minyak konvensional maka akan mengurangi harga minyak dunia sampai sekitar $83-$100 per barrel dari harga di tahun 2035 dengan asumsi harga minyak standar tahun 2035 adalah 132 per barrel. Negara lain di luar Amerika Serikat juga saat ini sedang serius mengembangkan shale oil, diantaranya adalah Argentina, Australia, Tiongkok, Rusia, Jepang, dan Meksiko. Meskipun demikian, bukan berarti shale oil tanpa masalah, lingkungan tempat penambangan batuan tersebut akan mengalami masalah luar biasa terutama dalam ketersediaan air bersih. Pemerintah Indonesia selalu mendengungkan kepada masyarakat dengan didukung oleh berbagai macam riset bahwa cadangan minyak kita akan segera habis, dan masyarakat harus terbiasa dengan harga pasar minyak dunia. Tentu suatu hal yang ironis dimana semenjak kita kecil sampai dewasa kita selalu mendengar cerita bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya akan Sumber Daya Alamnya. Tak bisa dibayangkan bagaimana negara seluas Indonesia dengan populasi masyarakatnya yang terbesar ke 4 di dunia, keanekaragaman hayati nomor 2 di dunia, dan panjang garis pantai nomor 2 di dunia akan meronta-ronta untuk memperoleh minyak dunia. Pemerintah dan para ahli Sumber Daya Mineral Indonesia harus mencari alternatif energi terbarukan bagi bangsa ini, jangan jadikan alasan Sumber Daya Alam (SDA) itu terbatas sebagai penghambat langkah. Shale oil pun layak untuk diuji apakah terdapat kandungannya di bumi Indonesia. Alternatif lain seperti etanol dan bio energy perlu juga terus dikaji. Mengutip pernyataan dari tokoh ekonomi Islam Muhammad Abdul Mannan, bahwa sebenarnya Sumber Daya Alam yang dapat dimanfaatkan itu tidaklah terbatas, yang terbatas adalah kapasitas berpikir otak manusia untuk menemukan hal yang baru. Sedangkan kita pun tidak bisa menggantungkan seluruhnya pada pemerintah, dari hal kecil pun bisa kita lakukan, misalnya kita menggunakan sepeda menuju kampus atau dengan menggunakan kendaraan umum. Mewujudkan ketahanan energi adalah kewajiban kita semua, bangsa Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Cahyafitri, Raras. 2015. Govt needs to pay more attention to downstream sector. Jakarta Post. PricewaterhouseCoopers. 2013. Shale Oil : The Next Energy Revolution